Zantoso's Blog

life is great adventure

Puisi Gila

Berjuta penanda yang dapat terlihat, hanya menjadi petanda bagi kemiskinan hati kita.

Bermilyar penanda yang tak dapat terlihat, penuh dengan samudera Kasih dan SayangNya.

Beribu sakit yang dapat terasa, selalu menjadi pakaian bagi kesombongan kita.

Berjuta kesembuhan yang selalu kita lupakan, teronggok tak berdaya terinjak keangkuhan kita.

(Orang gila)

 

Bagaimana ku menyapamu, sedang ku tak percaya pada bahasaku.

Dimana ku harus menemuimu, disaat ku bertanya dimana ku bisa mencariku.

Kemana ku harus mengantarkanku, sedang ku tak dapat menggenggam lengankku

Jogja, 21 10 2004 (Wong edan)

Iklan

A Lonely Place to Die (2011) BluRay 720p 550MB Ganool | Ganool.com

film thriller pendakian

A Lonely Place to Die (2011) BluRay 720p 550MB Ganool | Ganool.com.

Pendakian Pulosari 1346 mdpl

Menikmati Cuaca di Pulosari (Ujan-ujanan, Angin-anginan)

Yup karna lagi bulan-bulannya ujan (berkaitan dengan headline di atas :p), tapi kehendak hati yang udah kangen ama gunung maka berangkatlah kita hehe..disamping itu hal yang paling crusial adalah bahwa lokasi gunung yang deket, masa yang jauh kita jabanin eh yang deket gak di tengok..hehe. Pagi-pagi belum berangkat aja dah ujan terus. Kali ini keberangkatan kita beda dari biasanya kita pake motor, karna memang lokasi Pulosari di kabupaten Pandeglang tidak begitu jauh dari domisili kita di Serang, jarak tempuh kurang lebih 2 jam.

Sabtu siang, 14 Januari 2012 jam 14.00 kita berangkat, team terdiri dari Eby, Defri, Imron, Ifa (istriku tercinta..hehe) dan saya sendiri, sampai di desa Cilentung Pos pertama tepat di bawah kaki Pulosari jam 16.00, disini kita bisa titip kendaraan sekalian packing ulang persiapan mendaki. Tarip penitipan cukup terjangkau 5000 rupiah sehari semalem.

Jam 16.30 kita bersiap dan memulai pendakian, harga tiket masuk perorang 5000 rupiah. jalur awal pendakian masih tertata rapih dengan paving block kurang lebih 50 meter, untuk kemudian selanjutnya jalur berbatu dan terus menanjak dengan kanan kiri ditemani vegetasi khas pegunungan.

Jam 17.15 kurang lebih kita sudah sampai di Curug Putri, karna cuaca berkabut dan makin gelap, akhirnya kita putuskan untuk lanjut menuju kawah dimana kita bisa mendirikan tenda, ketika turun baru nanti kita mampir Curug Putri.

Jam 17.45 plus minus sampailah kita di areal kawah, view dipenuhi dengan kabut ditambah memang waktu yang beranjak senja, pandangan kita menjadi terbatas. Di kawah ternya kita tidak sendiri, sudah ada satu tenda yang katanya mereka datang dari Rangkasbitung. Tidak lama kemudian 2 buah tenda kita sudah berdiri, saatnya beristirahat sembari menyiapkan santap malam..

Malam hingga Pagi. Semalaman kami guyur hujan plus angin, tapi tetap ceria, kita masih bisa berbincang meski cuma dalam tenda..haha, sampe pagi hujan sempat reda, memberi kesempatan buat kita bikin kupi & sarapan. kabut masih tetap tebal, diiringi ujan juga, pandangan terbatas, rencana semula yang mau nengokin puncak akhirnya kita cancel, padahal titik tertinggi Pulosari sudah dekat sepertinya kalo gak salah +- 300 an meter lagi. Alhasil kita putusakan untuk packing dan turun. Mantap.. sepanjang perjalanan turun kita diguyur ujan. kurang lebih 2,5 jam perjalanan kita sudah sampai tempat penitipan motor. Istirahat sembari menyeruput teh panas & kopi di warung sekaligus tempat penitipan motor. Cukup lama kita beristirahat disini..hingga akhirnya kita beranjak pulang.

Sujud syukur kita untuk Sang Pencipta Hujan dan Angin, sehingga kita masih diberi kesempatan nikmat cuaca dan karunia Pulosari.

Catatan Pendakian Gunung Salak jalur Cidahu

Menuju Salak I.

Bermula dari rencana pendakian yang kedua dari komunitas LA (Lentera Alam) wadah yang dibuat bareng oleh kawan-kawan satu tempat kerja. Sebelumya banyak kawan yang mo ikut serta, tapi mendekati hari H (yang diundur satu minggu) 21 Okt 2011, banyak dari kawan-kawan yang mengundurkan diri. Alhasil cuma kami bertiga: Defri, Jay, Gaus (saya sendiri) yang akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana pendakian ke Gunung Salak di Sukabumi.

Jumat jam 5 teng selesai jam kerja, jalanan Tambak macet total, jam keberangkatan kami yg semula pukul 19.30 jadi mundur. jam 22.00 waktu Serang kami berangkat menuju terminal Pakupatan Serang, kurang lebih perjalanan setengah jam kami sampai di Pakupatan, dari Pakupatan disambung dengan Bus AC jurusan kp. Rambutan, ongkos Rp. 17000,. perorang sampai di terminal Kp. Rambutan 00.30.

Seperti yang memang sudah kami prediksi, sampai Rambutan pasti sudah tidak ada lagi bus jurusan Sukabumi (berdasarkan info yang kami peroleh dari berbagai sumber: googling, tanya temen, tanya kenek). Kami putuskan untuk nongkrong dulu sebentaran deket kedai kopi, sambil tanya-tanya tentang masih adakah bus yang menuju Sukabumi..Pucuk di cita ulam pun tiba, ada bus jurusan Tasikmalaya, nih bus sudah pasti lewat Ciawi, dari Ciawi kami bisa sambung lagi dengan angkutan lain buat ke Sukabumi.

Kurang lebih jam 01.00 berangkat dari Rambutan menuju Ciawi, dengan ongkos Rp. 6000,. perorang. dari ciawi kami naik angkutan kecil semacam mobil travel (tapi kayaknya angkutan gak resmi dech). semula kami dipintai 15000,. perorang akhirnya setelah tawar menawar dengan lobi lobi ala yahudi 😛 disepakati harga perorang Rp. 10000,. dari Ciawi kami berhenti di Cicurug (karna kita mo lewat jalur Cidahu). Kalo saya tdk lupa, sampai di pertigaan Cicurug jam 03.00.

Dari Cicurug ada angkot dengan ongkos Rp. 10.000 tapi gak sampi depan pos TNGHS, mesti jalan kaki buat sampe ke Pos. Kami nongkrong dulu di kios rokok di Cicurug, sambil melengkapi perbekalan, Beli air mineral 3 botol besar. Sambil ngobrol sama abang warung, kami diaranin pake ojek dengan ongkos perorang Rp. 30.00 Mahal tapi memang sesuai dengan medannya yang jalannya rusak plus nanjak terus sampe depan TNGHS. Sampai di pos pendaftaran kurang lebih jam 04.30. Ada penjaganya namanya Bpk. Aceng. orangnya ramah, jam buka pendaftaran mestinya tertulis jam 08.00, tapi ja 05.00 kita sdh boleh daftar..biaya pendaftaran plus materai buat 3 orang 30.00.

Setelah sholat subuh kam isarapan pagi, ada 1 warung dekat dengan Pos TNGHS, Sarapan mie rebus campur nasi. Jam setengah 7 kami memulai pendakian. Singkat ceritanya (capek ngetiknya) jalur Cidahu emang mangstaaab, mulai dari pacet trek nanjaknya (ampe pake tali segala), becek plus licin.. sampai di puncak jam 15.00. Viewnya memang tidak begitu bagus, Gak dapet sunset juga gak dapet Sunrise, full of fog..tapi kami dapat kawan rimba sejati, di puncak kami bertemu kawan  dari bekasi & bandung (Indra & Deni). yang menawarkan jalur laen buat turun, jalur Cimelati, treknya mendingan daripada Cidahu.

Pendakian Ceria Papandayan

Jumat sore 9 Desember 2011  jam 18.00 saya dan istri sudah beres packing, tinggal tunggu temen “eby” yang mo mampir ke rumah, rencana berangkat bareng menuju terminal Pakupatan. Jam 19.00 kami berangkat menuju Pakupatan, kurang dari 30 menit sampe di terminal, kawan Defri & Alex sudah sampe lebih dulu, tinggal tunggu Kawan Jay. Selang berapa lama muncullah sosoknya.

Jam 20.00 semua peserta pencer (pendakian ceria) udah lengkap, diskusi kecil mengenai rencana mo pake bis langsung Garut ato mo ke Rambutan dulu, akhirnya kita bersepakat buat ke Rambutan dulu karna bis dari Pakupatan tujuan Garut dah ga ada lagi.

Jam 21.00 kita berangkat ke Rambutan pake bus Primajasa dengan ongkos perkepala 17.000, perjalanan lumayan lama dicampur macet di daerah Jakarta. jam 00.00 kita baru sampe di Jkt Terminal Kp. Rambutan.

Jam 00.lebih-lebih dikit kita dah dalam bis menuju Banjar (turun di nagreg sambung pake mobil elf sampe Garut). Ongkos perorang 35.000 bukan AC..wah full asap rokok, meski begitu kawan-kawan tetap ceria, istri saya saja tertidur dengan lelap di sebelah saya..hehe. sepanjang perjalan saya berkoordinasi (sms-an) sama kawan Indra dari Bekasi & Deny dari Bandung buat janjian ketemu di pos Papandayan.

Jam 07.00 kita sampe di Garut berenti di depan alun-alun Tarogong di situ kita dah di tunggu sama Mang Ato, sopir mobil angkutan bak terbuka (angkutan sayur). Sementara itu Indra dan Deny udah lebih dulu sampai di Pos Parkir Papandayan dari jam 04.00. Jadi gak enak hati kita kelamaan telatnya. 😦

Jam 08.00 kita dah sampe di terminal Papandayan..sudah setengah dari ketinggian gunung Papandayan sepertinya kita menempuh perjalanan. Disambut hangat udara pegunungan dan sapa kawan Indra & Deny, ngobrol-ngobrol sambil nunggu nasi goreng buat isi perut, ngudud plus kopi..akhirnya jam 09.00 kita packing ulang dan siap memulai pendakian.

Jam 09.00 kita mulai pendakian sambil diselingi canda tawa karna jalur yang masih landai (masih bisa haha hehe) lain halnya kalo dah ketemu trek nanjak (bisa hihihihi)..sepanjang perjalanan tidak lupa photografer kita saudara Jay selalu mengabadikan ketika dia rasa mendapat view-view yang oke. ditengah perjalanan menuju pondok selada kita ketemu Bang Asep yang ternyata kenal sama Indra (orang gunung ketemunya di gunung lagi..hehe).

Jam 12.00 setelah melewati jalur yang lumayan menanjak, kita sampai di dataran yang lumayan lapang (pondok selada) disitu sudah ada beberapa tenda dari pendaki-pendaki lain yang lebih dulu sampe. Selagi kita menentukan lokasi pendirian tenda..tiba-tiba gerimis..malah agak lebat, alhasil kita agak kalang dan kabut cepet-cepet pasang tenda. 3 tenda telah terpasang, badan lumayan pegel ditambah ujan, pas banget kondisinya buat ngelonjorin badan tidur dalam tenda. lumayan lama ujan baru berenti kurang lebih jam 16.00.

Jam 04.00 Ujan dah reda, kita pada keluar dari peraduan, masak makan siang yang tertunda..sementara sebagian memasak yang lain nyari ranting-ranting jatuh bakal api unggun buat malam nanti.

Selepas Maghrib, udara mulai terasa semakin dingin..Bang Asep bakar parafin diantara ranting-ranting yang udah kita kumpulin tadi sore..jadilah api unggun, lumayan buat ngangetin badan, sambil nemenin kita canda-candaan. gak berasa waktu melarut jam 22.00, satu persatu, mulai masuk tenda dan terlelap dengan mimpinya masing-masing.

Jam 05.15 Bangun pagi, rencana mo liat sunrise, saya & soulmate  keluar tenda, wah ternyata kita ga bisa dapet sunrisenya..but its ok, menyambangi gunung bukan sekedar mencari sunrise..jadi apa yang dicari???

Jam06.30 setelah semua bangun kita beranjak menuju Death Zone (DZ) area & Tegal Alun, hanya bang Asep & Deny yang tinggal di tenda. trek menuju DZ area tidak begitu melelahkan, lain halnya ketika menuju Tegal Alun jalur nanjaknya lumayan bikin ngos-ngosan. Plus minus jam 08.30 kita sampe di Tegal Alun..sebuah dataran luas yang dipenuhi dengan bunga Edelweis, sungguh indah sekali, Waktunya bernarsis ria..setelah puas mengabadikan jeprat-jepret sana-sini. Kita kembali ke Pondok Selada. Perjalan turun tidak terasa lama, kurang lebih jam 10.00 kita dah sampe di tempat kita ngecamp.

Jam 11.00 Setelah packing dan makan siang kita beranjak turun, jalur turun melewati kawah, bau belerang terasa menyengat, tapi tetep aja kita sempet-sempetin narsis lagi hehehe. Plus minus jam 12.30 kita sudah sampe di Taman parkir Papandayan. Mang ato sudah menanti, mau nganterin kita sampe terminal Garut.

13.40 sampai di Terminal Garut, makan siang di Warteg bintang lima hihihii. Jabat tangan berpisah (sementara, besok kan kalo ada ruang dan waktu kita ketemu lagi..hehe) dengan kawan Indra & Deny yang menuju habitat asal masing-masing. Bis yang kita naiki menuju Jakarta berangkat jam 15.00, sampai Kp. Rambutan 21.00, disambung bis jurusan Serang, tiba di Serang jam 23.00.

Padang luas berhamparkan permadani Edelweis

Lelah terhapuskan perkawanan, Hijau rimba, hangatkan anak-anak rimba

Kawah Papandayan, Keindahan tak mudah didapatkan..

Puji Syukur kepada Allah Sang Pencipta Segala Yang Indah

Terimaksih telah Kau beri kami kesempatan bersahabat dengan PapandayanMu

Berhenti

Aku sudah kembali, tak perlu kau takut
Aku tidak akan menafsirkan mata dan senyum

Aku telah berhenti, tak perlu kau berlari
Berjalanlah seperti biasa, karena aku sudah diam

Pergilah dengan senyum

Aku telah pulang, dari tanah tak bertuan
Kekasihku membintang di tujuh lapis tinggi
Bintang telah mengarahku, berpantai kasih sejati

Aku sudah kembali, tak perlu kau takut
Aku sudah buta, hanya sejatiku terlihat

Tribute to Jogja
Zantoso, March, 24 2010

Sebuah Tuntutan diujung Belati

Dunia akan sudah menamparku, membuta perasa dibenturkan pada tembok kesadaran, bentukku seperti mozaik pada cermin yang terpecah malantai dan berdebu. Kosong merongga dingin pada raga, Kaki dan lenganku sudah akan terpatah mual dan ter-rajam waktu yang kini. Asa kemana lari berujung rongga tak ada, satu belati menatap di kerapuhanku, membidik gila di ketakutanku..
Nov, 8 2010